Posted by

22 comments

Disamping Pantai Losari yang sudah cukup dikenal sebagai salah satu icon kota Makassar, satu lagi yang tidak bisa dipisahkan kalo kita berbicara tentang Kota “Daeng” Makassar, yaitu KAREBOSI.

Hanya ingin berbagi sedikit tentang darimanakah asal nama KAREBOSI ?

Konon menurut cerita, Gowa di abad ke-10 dilanda keadaan kacau balau. Gowa bagai sebuah rimba tak bertuan. Orang-orang saling beradu kekuatan. Setiap orang ingin membuktikan bahwa, dirinyalah yang terhebat. Dan akhirnya yang lemah tersingkir dari kehidupan.

Suatu hari di kala itu, Gowa dihantam hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Peristiwa itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Karebosi yang dulu merupakan hamparan luas nan kering lalu digenangi air.

Lantas sekitar ratusan mata rakyat Gowa saat itu tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.

Tak ada yang tahu asal muasal ketujuh orang itu. Namun, rakyat Gowa saat itu percaya kalau mereka adalah tomanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar) yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi atau Tuan yang Membawa Hujan, pun menginspirasi rakyat Gowa saat itu untuk memberi nama hamparan yang kemudian mereka jadikan sebagai sawah kerajaan itu. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan. VOC kemudian mengubah nama itu jadi Koningsplein. Setelah penjajah Belanda menyerah, nama itu lantas berubah lagi jadi Karebosi seperti yang dikenal banyak orang dewasa ini.

http://www.panyingkul.com/view.php?id=25&jenis=karebosi

Ada nilai history tersendiri Karebosi di kalangan masyarakat kota Makassar. Lapangan ini merupakan titik nol kilometernya kota Makassar juga berfungsi Sebagai lahan respan air, sebagai tempat olahraga untuk masyarakat umum atau tempat latihan tim Persatuan Bola Makassar “Juku Eja” (PSM), sebagai paru- paru kota, dll.

Disamping sisi lainnya yang memang di kenal sebagai tempat paling mudah untuk bisa menjumpai Komunitas kaum waria.

Sekelumit cerita tentang Kaum Waria Dan Karebosi oleh Citizen Reporter Mansyur Rahim di panyingkul.com

Sekitar pukul 04.00 dini hari, Pingkan mulai gelisah. “Pak Le’, ojekku sudah datang?” Pingkan melirik pada Pak Le’.

“Belum. Yang gemuk itu kan?”

Pingkan mengangguk. Para waria biasanya meninggalkan Karebosi dengan ojek langganan atau naik taksi. Mereka umumnya beranjak sekitar pukul 5 pagi, meski ada satu dua yang bertahan hingga langit menjadi terang.

“Wah banyak uang dong kalau pulang naik taksi?” tanya saya, dengan harapan dapat mengorek keterangan berapa penghasilannya dari hasil kencan malam ini.
“Bayarnya bisa diatur, Mas. Pak sopir dirayu sedikit… argo pasti dimatikan.” seloroh Pingkan mengelus pahanya sambil tergelak.

….
Percakapan dengan Pingkan terus berlanjut hingga pagi mulai merekah. Setahun yang lalu, saya pun duduk di warung yang sama, dengan tujuan yang sama: ingin mengetahui lebih jauh kehidupan para waria. Kali ini Karebosi memang tak seramai setahun lalu..

Dulu saya menghitung masih ada sekitar dua puluh waria di sisi barat. Mereka duduk berkelompok 3-5 orang di sekitar rumpun bunga. Malam ini, selain lima waria yang berada di bawah pohon yang tak jauh dari warung milik Daeng Bunga, hanya ada satu dua waria di sepanjang sisi barat. Seorang tampak duduk bersandar pada bahu seorang lelaki. Keduanya duduk merapat pada pagar besi pembatas lapangan tenis. Sementara di sudut barat-utara, tampak seorang waria duduk di sekitar rumpun bunga.

Juga setahun lalu, ketika nongkrong di warung Daeng Bunga saya melihat seorang waria berusia 60-an membeli kondom dari Pingkan. Setelah membayar, waria yang dipanggil ‘nenek’ itu lalu ke belakang warung diikuti seorang pemuda berusia 20-an.

“Yah, rezeki dan selera orang berbeda-beda Mas,” jawab Pingkan saat itu seolah membaca keheranan di wajahku.
Azan subuh terdengar bergema. Saya memutuskan meninggalkan Karebosi. Pingkan masih gelisah menunggu ojek langganannya.

“Sudah tidak seramai dulu lagi, Nak….” kata Daeng Bunga saat saya pamit dan membayar semangkuk mi dan segelas kopi.
…..

Di belakang meja, seorang lelaki paruh baya menyeduh segelas kopi hitam. Sambil mengaduk, dia mengatupkan kancing jaket untuk menghalau dingin. Di depan warung itu, seorang waria duduk di atas becak, cardigan hitamnya dibiarkan terbuka memperlihatkan baju dalam putih. Waria berkulit putih ini tersenyum, kaki kanannya diangkat ke atas kaki kiri lalu merebahkan kepala para sandaran becak. Di depan jalan masuk sisi barat, seorang waria menanti di sebuah kursi. Ia tersenyum pada satu dua kendaraan yang melintas. Terkadang tangannya melambai.
Dunia waria dan kesibukan transaksi seks di tepi Karebosi memang sudah sepi.

Selain karena razia yang digencarkan aparat kepolisian, berkurangnya pelanggan disebabkan ulah waria itu sendiri. Banyak pelanggan yang kehilangan ponsel dan dompet sehabis kencan dengan waria. Pelakunya tak pernah ketahuan. Keributan pun kerap terjadi, misalnya saat seorang pelanggan dikeroyok oleh waria karena tak mau membayar setelah kencan.

http://www.panyingkul.com/view.php?id=22&jenis=karebosi

Sekarang, Terhitung mulai tanggal 17 oktober 2007 kemaren Pengerjaan revitalisasi Lapangan Karebosi mulai dikerjakan. Rencananya, 9 November 2008 mendatang, underground yang dilengkapi tempat perbelanjaan seperti mal, sudah dapat difungsikan.Dari luas lahan yang dikerjakan, 60 persennya adalah tempat parkir dan 40 persennya menjadi lahan bisnis. Di antaranya, mal, gerai handphone, supermarket, dan gerai elektronik.

Mengutip judul postingan Arul “Karebosi, produk kapitalisme masa depan?”. ( Maaf Rul, nga minta ijin dl. Nga papa yach? )

Akan khan nilai history Karebosi yang sudah ada berabad – abad lamanya akan tergusur dan tergantikan dengan nilai sebuah Mall dan semua lahan bisnis yang direncanakan.

Makassarku yang semakin centil untuk mempercantik diri, mudah – mudahan tidak menghapus secara perlahan identitasnya. Semoga Anak – anak Kota “Daeng” ini di masa akan datang masih bisa “Tahu dan Lihat” peninggalan sejarah di Kota ini.

Link yang masih terkait :

Link 1 , Link 2 , Link 3.





22 Comments

  • By Jendral Bayutâ„¢ on 19 October 2007 at 1:23 pm

    hidup banci karebosi :evil:

  • By Jendral Bayutâ„¢ on 19 October 2007 at 1:25 pm

    sedih memang
    tapi inilah hidup
    semua akan terkikis waktu dan zaman
    smoga saja masih ada yg tersisa
    *sok serius*

  • By Ina on 19 October 2007 at 1:26 pm

    @ JB
    Nga boleh hetrixxx

  • By cK on 19 October 2007 at 3:11 pm

    maaf, cK sedang sibuk. ngabsen aja yah… :D

  • By arul on 19 October 2007 at 3:43 pm

    waduh makassarku, karebosiku, (yang jelas bukan bancinya…. hahaha)
    menghilangkan nilai-nilai history dari karebosi .
    kenapa mesti membangun mall di situ yag? apa ngak ada tempat lain??

  • By arul on 19 October 2007 at 3:50 pm

    perkiraanku sih gara-gara MTC butuh lahan parkir, trus para konglomerat pengen berbisnis mall di pusat kota jadi gitu deh…

    memang bagus banget ide untuk memperbaiki/mempercantik lapangan karebosi, tapi bukan berarti membangun juga mall di situ…
    ah… moga masih tepat mengakomodir kepentingan rakyatnya.

  • By arul on 19 October 2007 at 3:51 pm

    hetrikz…..
    boleh ngak?

    hidup makassar!!
    ewako

  • By Ina on 20 October 2007 at 4:50 pm

    @ cK
    :D iya absen diterima.Masih sibuk yach chik?

    @ arul.
    bingung juga liat cara pemikiran na pemkot.
    mudah2 sech makin mikirin rakyat, rul.

    Walah dah hetrixx baru minta ijin. Telat, Rul.
    :mrgreen:

  • By aLe on 20 October 2007 at 5:02 pm

    hehe :mrgreen:

  • By chiw on 20 October 2007 at 8:08 pm

    bukannya bagus ya Mba?
    kan kalo gini, tambah terkenal juga…
    :razz:

    aku aja jadi tau, apa itu karebosi…

    :mrgreen:

  • By Ina on 20 October 2007 at 8:22 pm

    @ aLe
    hehehe (juga) :D

    @ chiw
    Ehm..mdh2 sech gt,wi. yg penting sech nga sampe kehilangan nilai historynya aja.
    Khan sayang :D
    Aku link yach.

  • By JengKoLHoLiC on 23 October 2007 at 1:29 am

    hadierrrrrrrrrrrrr !!!!

  • By Ina on 23 October 2007 at 12:32 pm

    @ JengKoLHoLiC
    Kok telat datang na?
    Hayo…push up 100 x :evil:

    Maap bang. :D

  • By almascatie on 24 October 2007 at 9:41 pm

    Makassarku yang semakin centil untuk mempercantik diri, mudah – mudahan tidak menghapus secara perlahan identitasnya. Semoga Anak – anak Kota “Daeng” ini di masa akan datang masih bisa “Tahu dan Lihat” peninggalan sejarah di Kota ini.

    betulll.. sepakat Ina.. identitas kita makin ditinggalkan dan dipaksa untuk menelan identitas modernitas yang tidak jelas.. lama2 kita ga punya akar kemanusian lagi deh
    :lol:

  • By Herson on 5 November 2007 at 10:38 am

    gimana sich cara menulis (menyusun kata-kata)?

  • By Ina on 7 November 2007 at 1:04 pm

    @ almas
    tumben kita akur yach boy. :D

    @ herson
    *bingung

  • By Paccarita on 6 December 2007 at 10:16 am

    Tabe’…

    Makasih di’ sudah iku’ berpartisipasi dalam Entry Tematik Angingmammiri.org
    Tulisan ta’ sudah dilink di Portal angingmammiri.org

    Mari ki’ dii…

  • By Ina on 6 December 2007 at 11:34 am

    @ Pacaritta
    Iye….makasih banyak dah di link :mrgreen:

  • By Ipul on 6 December 2007 at 12:01 pm

    halo Ina..
    senang sekali rasanya masih ada anak2 muda yang mengkuatirkan soal makin biasnya akar2 budaya kita..(halah..sok tua Lu, hehehe)

    yang jelas kita memang musti kuatir sama kelangsungan hidup budaya dan identitas Makassar..hari ini Karebosi yang “direnggut paksa”, besok apa lagi ya ?..

    jangan2 nanti Benteng Fort Rotterdam disulap jadi hotel…aadddduhhhh..!!!! jangan sampe deh..

  • By eko on 7 December 2007 at 10:22 pm

    wahahha daeng ipul kalo roterdam jadi hotel bijimana yah, mungkin mirip2 di inggris sana kali yah, kastil kan semua jadi hotel tapi mereka tidak merubah struktur hotel tersebut, kalo di makassar mungkin jadi MALL :(

    Ina siapa yang tua saya ato ina :D … hayoooo

    hemm karebosi……, sekarang masalah nya, jika mundur karebosi itu telah porak poranda, kita hanya bisa berdoa semoga nanti jadi seperti yang di tempel di tembok2 seng itu :D

  • By Ina on 8 December 2007 at 1:37 pm

    @ DG
    anak muda sapa dulu dong, daeng. :D
    *angkat2 kerah baju pdhal pake kaos oblong

    benteng jadi Mall??? HAAaaaa…khan itu banyak hantu na. :evil:

    @ Eko
    Inggris disamakan sama Makassar :D
    *masih jauh kali yeee

    Sapa yg lebih tua? Kita kyk na lbh tua dech :D
    saya khan masih 17 tahun tahun 2000 lalu :mrgreen:

  • By pingkan on 11 January 2009 at 11:42 pm

    salam…

    nasib para waria gimana yah skrg?
    btw, ina kok gak bilang2 mau mengutip tulisan ini?

    Ina :
    Wah..ini postingan dah lama bgt.
    masih dirumah lama nie.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

 


Switch to our mobile site