Keep narsis and still happy.

“Mirror… mirror on the wall. Who’s the fairest of them all?”

Familiar nga dengan kalimat diatas?? Hahahahaha..itulah kalimat paling narsis pertama yang langsung teringat oleh saya kalo ngomongin masalah narsisme. Kalimat itu diucapin ama Ibu Tiri si Putri salju yang selalu bertanya sama kaca ajaibnya.

Kenapa kok tiba-tiba bahas masalah Narsis sech?
kenapa tiba-tiba pengen ngomongin masalah narsis, karena ada beberapa pendapat yang cukup mengelitik saya sampe kegelian mendengarnya. Pendapat itu seperti ini :

Mereka, orang-orang narsis itu hanya sibuk menjadikan dirinya pusat, they are so self-centered. misalnya memasang foto dan bercerita sebanyak mungkin tentang diri Anda di blog.
sikap narsis berpotensi membawa kita berkutat pada hal-hal yang tidak substansial dan tidak mewakili kepentingan masyarakat lebih luas.

Dalam dunia Psikologi, narsis merujuk istilah narsisistik yg dikemukakan oleh Om Freud. Dipakainya istilah narsisistik berkaitan dgn mitologi Yunani ttg seorang pemuda tampan bernama Narcissus yg menolak cinta seorang peri bernama Echo krn merasa Echo tdk sepadan dgn ketampanannya. Sikap ini membuat dewi cinta Aphrodite marah & mengutuk Narcissus utk jatuh cinta hanya pada dirinya sendiri yg ia lihat dlm bayangan di air kolam.

Oleh Om Freud istilah ini kemudian digunakan utk menggambarkan sekumpulan ciri kepribadian yg berkaitan dgn menganggap diri sendiri sebagai sosok yg hebat & unik yg pantas utk dibanggakan & dikagumi.

Om Freud sendiri menyatakan bahwa setiap orang memiliki sifat narsisistik yg merupakan hal yg penting dlm perkembangan manusia berkaitan dgn derajat kepercayaan diri individu itu sendiri.

Ngomongin masalah narsis di blog untuk para blogger adalah hal yang sudah biasa dan nga aneh lagi.

Kenapa demikian?

Saya yakin setiap blogger pasti adalah orang-orang yang memilik bakat narsis dikarenakan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan diri baik lewat, postingan, majang foto-foto diri sendiri, bercerita dalam bentuk tulisan atopun sarana ber-ekspresi lainnya. Itu artinya para blogger memperlihatkan sesuatu miliknya (jangan ngeres dl yach) dalam hal ini adalah mengekpresikan pikirannya dalam bentuk tulisan ato apapun di area publik yang dapat diakses oleh sapa saja dan membuat semua atau sebagian dari publik memberikan penilaian positif-negatif/penghargaan terhadap dirinya, maka itu berarti ia telah ber-narsis ria. Misalnya nech narsis model Pasangan baru ( Adit & Niez) ini yg memproklamirkan kl dunia cuma milik mereka berdua : yg lainnya ngontrak.

Bentuk narsisme para blogger pun tak berpatokan hanya pada kekaguman pada diri masing-masing. Kadang Blogger pun bisa menarsiskan satu bentuk kampanye yang memiliki kepedulian pada masyarakat luas yang bisa disarani melalu banner, postingan, dll di blog. Misalnya Mbak Ira yang kampaye tentang peduli AIDS, atopun yang baru –baru ini Si Antobilang yang menarsiskan kegiatan BEKISAR para blogger Jogjakarta. Ato bisa jadi postingan narsis pedebatan Chika dgn Temannya yg apes tentang kurangnya kepedulian masyarakat Jakarta akan kebersihan hingga berujung pada banjir yg sudah sangat akrab dengan kota metropolitan itu. Ato mungkin keprihatinanku sendiri pada saat Fenomena Import Kondom bekas dan Pemanasan Global. Jadi Nga semuanya orang narsis ato lbh tepatnya blogger-blogger narsis itu hanya perduli pada dirinya sendiri dan tidak memandang orang atopun kepentingan masyarakat banyak.

Kalo ditanya :

Apakah Ina sendiri orang yg narsis? Kalau ya, bagaimana perasaan Ina?

Kalau saya bilang tidak maka siap-siap saja saya akan dirajam dan diarak keliling kota Makassar. Disertai protes kanan, kiri, atas, bawah. Karena saya memang termasuk narsis karena saya tidak raguu untuk memuji diri saya sendiri & membanggakan prestasi yg saya miliki. (Kan air laut asin sendiri. Selain itu saya tdk bisa maksa orang lain utk memuji saya sehingga lebih baik saya muji diri sendiri daripada gak ada yg muji. Ya nggak?)

Saya pernah berada dlm kondisi terlalu ‘merendah’ & tdk mau menonjolkan diri. Situasi tsb membuat saya menjadi kurang menghargai usaha yg telah saya lakukan utk meningkatkan kualitas diri saya. Hal tsb yg membuat saya belajar utk memuji diri sendiri jika saya sudah melakukan suatu pekerjaan dgn baik Dengan begitu, saya merasa lebih lega & lebih bahagia.

Keep narsis and still happy.

Caranya, jangan hanya mengenali kelebihan diri namun sadari juga kelemahan diri lalu berusahalah utk memperbaikinya, minimal berusahalan utk tdk mengabaikan bahwa anda adalah manusia yg memang memiliki kelemahan. Kalau anda sudah bisa menerima diri anda apa adanya, maka anda akan lebih mudah utk mempengaruhi orang lain agar mau menerima diri anda apa adanya. Dengan begitu anda bisa tetap narsis tapi happy.

Hidup Narsis…!!!