Disclaimer :
- Postingan ini adalah titipan dari seorang sahabat…yang isinya sebuah permenungan tentang keberadaan Akal dan Hati kecil pada masing-masing manusia. Yang ga merasa manusia silahkan menyingkir.
- Dan aku nga ngerokok lho…! Suer…! *summon pada penggila tembakau*

Dalam menjalani hidup, kita berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi diri kita dan bagi orang disekeliling kita. Terkadang niat didalam menjalani hidup tersebut terbentur pada niat yang saling berlawanan, contoh pekerjaan yang akan kita lakukan belum tentu berguna bagi orang disekeliling kita dan sebaliknya.
Terbentur pada prioritas yang akan dijalani untuk menjadi pilihan, tentu kita tidak akan ragu-ragu bila kepentingan pribadi yang diutamakan, tapi bila untuk kepentingan bersama masih ada pro dan kontra diantara kita.
Suatu hari aku duduk dikantin kampus, sambil menikmati secangkir kopi panas dan rokok, tanpa disadari tepat dibelakangku duduk seorang gadis yang sedari tadi tangan kanannya menutup hidung dan tangan kirinya sibuk menghalau asap yang mengarah ke dirinya.
Pada awalnya aku tidak mempedulikan karena aku berada dilingkungan yang disediakan bagi perokok, dan hembusan asap rokokku mulai berhenti tatkala si wajah manis menunjukkan senyumnya sembari memohon agar aku berhenti merokok. Sungguh aku KO dengan senyuman, kata-kata gadis yang duduk dibelakangku kuanggap suatu permintaan dari seorang sahabat.
Kejadian dikampus tersebut membuat aku berpikir hingga menjelang tidur di malam hari. Dimalam yang hening dan ditemani dinding kamar yang kusam atau dikarenakan cahaya lampu dikamar yang agak redup semakin menambah konsentrasinya perenunganku.
Awal perenungan dimulai dari akal yang mengatakan kepada diriku “ Kamu tidak salah karena kamu merokok di tempat yang telah disediakan” lalu lanjut akal “Seharusnya dia yang menjauhi kamu sebab ruangan ini disediakan bagi orang merokok.” itu adalah ungkapan akal yang berkata, tapi ada suatu bisikan yang muncul dari dalam sanubariku, “sanggupkah kamu melihat seorang gadis menahan sesak dan matanya berair menahan asap rokok ?” lanjut hati kecilku lagi “apakah kamu memiliki perasaan, tega nian kamu cuek melihat orang-orang disekeliling kamu tersiksa” Ah……aku tersadar dari dialog antara akal dan hati kecilku, manusia seperti apakah aku ini ? Mengapa aku tidak peduli dengan orang disekelilingku demi keinginan diri sendiri, tapi disatu sisi akal membelaku bahwa aku berada ditempat yang tepat.
Antara perperangan dalam diriku sendiri, antara pembelaan oleh akal dan antara jeritan kecil dari hatiku. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal didalam hatiku. Tapi dengan kelembutan dan senyuman tulus dari seseorang yang memohon kepadaku membuat perperangan didalam diriku dimenangkan oleh hati kecilku.
Memang sih logika jarang sekali sejalan dengan perasaan hati kecil kita, namun dari sifat buruk yang kumiliki aku merasa tahu bahwa jalan yang kulalui salah. Apakah kita bisa menuju jalan kebenaran bila kita tidak terbentur pada jalan kesalahan ?
Dari perperangan kecil dalam diri kita tentu akan membuat kita merenung, renungan yang akan membuahkan sebuah intisari, logika dan perasaan hati adalah sesuatu yang bertolak belakang, sanggupkah menjalani semua ini dengan menyeimbangkan logika (akal) dan hati kecil kita. Semoga.










26 Comments
**gak ikhlas**
Ina :
bukti kalo senyuman bisa meluluhkan sesuatu.
saya juga ndak ngerokok loo..
dipaksa kek gimana tetep emoh.. titik!!
hehehe…
lebih enakan makan nasi pecel..
:roll:
Ina :
keren..keren…!
nasi pecel emang enak.. mau traktir saya nga?
woo…..lebih gak enak lagi kalo di angkot ada yg ngrokok padahal angkotnyah penuh sesak
Pandangan hati tak pernah salah
Jika hati kita bersih
iya tuh, sebel klo ada orang ngrokok. Ga brani nasehatin, cuman mlototin. Tetep aja mereka cuek…
Harusnya kan, mentingin orang2 di sekitar juga…..
Berhenti dari sebuah kebiasaan, apalagi merokok, memang bukan hal yang mudah bagi mereka yang sudah ditahap kecanduan
Tapi… Sebelum merokok…, inget2 dulu anak sama bini…, trus inget2 uang belanja di rumah…, kan lumayan tuh buat nambah2 beli cabe kalo nggak merokok…hehehe :P
klo sudah bahas mengenai rokok saya angkat tangan na
mending tidak makan dari pada tidak ngerokok hihihihihi
sungguh mulia hatimu na….
*sambil nawarin malrboro light ke ina ;-)
Cendol ijo-ijo buat sahabat Ina, eh Ina juga dhing
Saya ndak merokok, tapi kalau misalnya saya mengalami kejadian seperti diatas(sebagai perokoknya) saya mungkin bakalan luluh juga, secara saya ini baik hati, tidak sombong dan gemar menabung(di toilet)
memang lebih enak klo ga ngrokok…
iyah….berrat bgt mikirnya…
postingan keren. sangat bermakna, na…
berat yah…hihi..
wah.. bilangin ke sahabatnyah..
ngaruh gak terhadap penilaian casing si gadis???
kalo gadisnah biasa na tidak menarik ??? apakah si hati akan tetap menang?
coba berdamai dengan diri sendiri
Itu sebabnya org suka bilang : “senyum dapat mengatasi segalanya…”
Neng2, gi mikirin backup?
awas digusur neng hehe :P
mampir…
purple dimana2 ya.. :-)
aduh makasih banget na, kamu mau menampilkan tulisanku, thanks ya na……
merokok?
apa sich enaknya rokok?
asap jie yg diisap trus d keluarkan lagi
tpi kata mereka “perokok”
ada nilai seni tersendiri yang terkandung didalamnya
tapi bagi saya,
merokok…….juga ada seninya
seni bagi saya klo pas ada org yg merokok d samping ku
bikin saya kaya gini :>
rokok cuma ngbisin duit doank, kalo pengen yang ngebul-ngebul mendingan bikin api unggun aja sekalian
terharu nihh…
bdw, salam knal ye..
mau tukeran link? :P
Blogwalking ….
Tulisannya banyak amat, hehehe, ini tentang merokok ya ?? Saya juga suka sebel kalau ada yang ngerokok di deket saya, saya langsung menunjukkan muka masam ke empunya rokok … tapi at least mereka ngerti
klo dkt orang ngerokok, sikap pertama ngipas2 di depan hidung, dgn wilayah kipasan yg cukup lebar..
(kyk mo terbang?
) )..biar si perokok g punya alasan buat pura2 g liat. Klo g mempan jg, palingan orang sebelah deen yg ikutan nyeletuk, alih2 si perokok tengsin deh..hehehe
hahahahaa…
kalau saya ada orang ngerokok malah diem aja.. padahal saya buuueeennciii nya setengah mati kalau ada orang ngerokok di tempat umum..
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
Leave a comment