<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>InaPurple.com &#187; belajar</title>
	<atom:link href="http://inapurple.com/tag/belajar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://inapurple.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Nov 2011 10:08:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Lelaki Cilik</title>
		<link>http://inapurple.com/2009/05/20/lelaki-cilik/</link>
		<comments>http://inapurple.com/2009/05/20/lelaki-cilik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 06:40:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Introspection]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inapurple.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Bekerja di sebuah NGO (Non-govermental organization) yang berhubungan langsung dengan anak-anak istimewa yang setiap harinya harus berjuang hidup di jalanan. Membuat saya melihat banyak hal tentang hidup dari mata kecil mereka. Terlebih dari kisahku dan `Lelaki cilik` ini. Matahari mulai menampakkan serabut sinar hangatnya di ufuk timur sana. Rutinitas pagi pun tampak riuh dalam sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-555 aligncenter" title="Ade a.ka. Rusdin" src="http://inapurple.com/wp-content/uploads/2009/05/edit-3-198x300.jpg" alt="Ade a.ka. Rusdin" width="198" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja di sebuah NGO (Non-govermental organization) yang berhubungan langsung dengan anak-anak istimewa yang setiap harinya harus berjuang hidup di jalanan. Membuat saya melihat banyak hal tentang hidup dari mata kecil mereka. Terlebih dari kisahku dan `Lelaki cilik` ini.</p>
<p><span id="more-551"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Matahari mulai menampakkan serabut sinar hangatnya di ufuk timur sana. Rutinitas pagi pun tampak riuh dalam sebuah rumah sederhana.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita baya yang dari kecil aku kenal sebagai sosok ibu yang melahirkanku telah sibuk berkutat di pojok kekuasaannya dan merupakan pojok yang jarang Â terjamah olehku&#8230;sudah pasti tempat itu bernama dapur. Beliau sibuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah yang cuma berpenghuni 3 makhluk hidup. Sementara sang kepala keluarga ternyata sedang sibuk membersihkan sepeda ontel kesayangannya di teras. Dan diriku sendiri larut dalam lamunan memandangi rutinitas pagi drama kehidupan.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi beranjak perlahan, saatnya memulai aktivitas hari ini dengan berangkat ke tempat kerja. Ya kembali bergelut dengan rutinitas untuk mempertanggungjawabkan kehidupan.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Selasa, mungkin tak ada bedanya dengan hari Selasa lainnya. Hanya saja ada sesuatu yang selalu jadi special di kantor Â jika berjumpa dengan hari ini dan 2 hari lainnya yaitu Kamis dan Jumat. Ah..ada kejadian seru apa ya hari ini?. Â Suatu perasaan tak sabar pun mulai menghinggapi hati ini.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Siang Kak&#8230;.!â€</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat di hadapanku berdiri seorang anak lelaki. Matanya menyiratkan kejenakaan khas anak â€“ anak tapi sarat makna hidup, kulitnya gelap terbakar matahari, tingginya persis sedadaku.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Kak&#8230;!â€ sekali lagi Ia menyapaku.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€ Oh&#8230;Haiâ€ Jawabku tercengang. Aku tidak menyadari kalau sudah ada anak yang datang awal untuk mendapatkan waktu bermain Â lebih banyak di centre yang terletak halaman samping kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">â€Kakak, bisa membaca?â€ Suara khas anak lelaki yang baru beranjak remaja. Kuperkirakan ia berusia 11 tahun. Â Ia bertanya sambil kedua matanya melihat ke buku yang sedang aku pegang.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menganggukan kepala. â€Tentu, kakak bisa membaca!â€</p>
<p style="text-align: justify;">â€Wah..pasti kakak senang sekali ya bisa membaca, betulkan kak?â€</p>
<p style="text-align: justify;">Agak Â heran aku memandang anak itu. Kenapa ia bertanya hal itu?.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi aku menganggukan kepala.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Â â€Nama kamu siapa? â€ karena baru sekali itu aku melihatnya di centre ini.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Ade Kak, Kakak sendiri siapa namanya?â€Â</p>
<p style="text-align: justify;">Tanyanya dengan lugu sambil mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda mengajakku bersalaman.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ku sambut uluran bersahabatnya dan menjabat erat tangan mungil itu.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Hai Ade, Â Panggil saja saya Kak Ina.â€ Serabut seringaian jenaka mengembang di wajahnya.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Kamu bisa membaca?â€ tanya ku sambil berjalan ke sebuah bangku taman kecil.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ade mengikuti aku.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ade menatapku langsung dengan matanya yang besar.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Aku tidak bisa membaca kak!â€.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Jadi kamu tidak bisa membaca? Kamu masih punya orang tua, bukan? Kenapa kamu tidak sekolah?</p>
<p style="text-align: justify;">Ade mengangkat bahunya yang kurus. â€Kata Ayah, ia tidak sanggup membiayai uang sekolahku. Mungkin nanti jika aku sudah besar nanti dan mempunyai uang banyak dari hasil jual koran aku akan masuk sekolah. Â Tapi sebelum itu&#8230; bagaimana kalau kakak mengajarkanku membaca?Â</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sopan anak itu duduk di depanku. Ia menunggu.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Hm&#8230;Aku menyukai semangatmu,â€ kataku sambil tersenyum.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Anak ini memang bersemangat sekali untuk belajar. Ku ambil beberapa buku dan kuletakkan di hadapannya.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Mari kita mulai!â€.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah itu sebagai awalan aku mengenalkannya ke beberapa huruf Â alfabet sambil terus diucapkan berulang ulang.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ade hidup di lingkungan kumuh yang terletak di tengah kota besar ini, pergaulan antar tetangga tidak terlalu sehat, walaupun masing â€“ masing sibuk memikirkan pencarian nafkah sehari-hari. Tapi kesadaran orang tua untuk mencerdaskan anaknya sering terhalang masalah ekonomi yang pas â€“ pasan. Pas ada uang ya makan, pas tidak ada uang ya tidak makan.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Bisa di mengerti?â€ tanyaku.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ade mengaruk garuk kepalanya. â€Ya Terima kasihâ€ Ia memperhatikan bagaimana aku mengajarkannya mengenal huruf yang termasuk ilmu baru baginya.Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Kakak tentu senang ya bisa membaca dan mengetahui apa saja?â€<br />
â€ Begitulah&#8230;â€Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ade meletakkan kedua sikunya di paha dan mukannya ditahan dengan kedua telapak tangan.<br />
â€ Kakak kebalikan dari ayah dan ibuku. Ayah sering mengatakan bahwa kita lebih baik cari uang yang banyak daripada menghabiskan uang untuk sekolah. Â Repot dan memusingkan katanyaâ€.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Saat berbicara demikian Ade seolah-olah berubah menjadi lelaki `dewasa` cilik bagiku.Â<br />
â€Sebenarnya aku ingin lekas besar.â€ katanya sambil memejamkan mata.Â<br />
â€Kalau aku sudah besar, aku bisa punya uang sendiri, aku bisa melakukan semua yang aku mau tanpa harus dimarahi oleh siapapun, meskipun&#8230;â€</p>
<p style="text-align: justify;">â€Kenapa Ade?â€</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam menanti jawabanÂ</p>
<p style="text-align: justify;">Ade berdiri. â€Terima kasih, Kakâ€.<br />
Keraguan itu nampak jelas, seolah ia ingin mengatakan sesuatu. Aku sudah bisa menerka apa yang hendak dikatakan dan sambil mengelus kepalanya aku berkata<br />
â€Kalau hari Kamis ini kakak mau belajar bersama kamu lagi, kamu mau datang lagi tidak?â€Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ia duduk kembali. â€ Kakak, saya benar boleh datang lagi meskipun saya tidak pandai membaca?â€Â</p>
<p style="text-align: justify;">â€Boleh Kakak?â€ matanya seolah meminta dengan sayu menunggu jawabanku.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya hatiku hancur luluh dan tanpa berpikir lebih panjang aku berdiri dan mendekapnya. â€ Boleh Ade dengan senang hati. Kapan saja kau boleh ke mariâ€.Â</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mendekapku keras â€“ keras.<br />
â€Terima kasih Kak. Aku akan ceritakan ini pada Ibuâ€ Â<br />
Ia berlari melintasi halaman belakang dan keluar melalui pintu kecil di samping kantor.Â</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya, hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.<br />
- Einstein -Â </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inapurple.com/2009/05/20/lelaki-cilik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

